ARAHBISNIS.COM – Bagaimana sekolah dapat mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi sirkular yang berdampak nyata bagi lingkungan?
Bisakah gagasan siswa SMA, SMK, dan madrasah berkembang menjadi solusi pengelolaan sampah yang diterapkan secara berkelanjutan?
Lalu, bagaimana kolaborasi pemerintah, lembaga internasional, perguruan tinggi, dan sektor swasta memperluas dampak inovasi tersebut ke berbagai daerah di Indonesia?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia mendorong inovasi pengelolaan sampah berbasis sekolah melalui Youth Circularity Camp 2026 di Jakarta.
Program yang berlangsung pada Jumat–Minggu (30/10–1/11/2026) tersebut melibatkan lebih dari 125 siswa dan 50 guru dari 25 SMA dan sederajat, termasuk sekolah menengah kejuruan (SMK) dan madrasah.
Kegiatan ini menempatkan siswa sebagai penggagas solusi, sedangkan guru, mahasiswa, praktisi ekonomi sirkular, dan pelaku usaha mendukung pengembangan ide menjadi inisiatif yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.
Youth Circularity Camp 2026 Dorong Siswa Hasilkan Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sekolah
Baca Juga:
Bangunan Modular Tarik Minat Pembeli Internasional di Ajang Linyi Sourcing Fair
SKYWORTH Solar Luncurkan Solavita, Merek Solusi “Smart Microgrid” untuk Pasar Global
Youth Circularity Camp 2026 diselenggarakan KLH/BPLH dan UNDP Indonesia bersama Universitas Budi Luhur (UBL), dengan dukungan The Coca-Cola Foundation.
Kegiatan yang bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober ini menggabungkan pembelajaran, pameran inovasi, dan tantangan pengembangan solusi pengelolaan sampah.
Sebanyak 25 mahasiswa UBL turut menjadi fasilitator untuk mendampingi peserta dalam mengidentifikasi persoalan sampah di sekolah masing-masing.
Para siswa bekerja dalam kelompok untuk merumuskan proposal inisiatif dan kampanye edukasi yang dapat mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah.
Pemenang tantangan inovasi diumumkan pada acara penutupan, Minggu (1/11/2026), sebagai bagian dari upaya mendorong gagasan yang dipimpin langsung oleh generasi muda.
Pameran Circularity Innovation Exhibition Perkenalkan Solusi Daur Ulang dan Guna Ulang untuk Lingkungan Sekolah
Selain sesi pembelajaran, Youth Circularity Camp menghadirkan Circularity Innovation Exhibition yang mempertemukan peserta dengan 10 organisasi dan pelaku usaha di bidang ekonomi sirkular.
Pameran tersebut memperkenalkan solusi praktis yang mencakup daur ulang, guna ulang atau upcycling, serta layanan pengumpulan sampah.
Keterlibatan berbagai pelaku ini membuka ruang bagi siswa dan guru untuk mengenali alternatif penanganan sampah sekaligus memahami penerapan ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut penting karena pengelolaan sampah berbasis sekolah tidak hanya membutuhkan edukasi, tetapi juga kebiasaan memilah sampah dan dukungan sistem pengumpulan yang berkelanjutan.
Baca Juga:
ChinaMarket Ajak Delegasi Pembeli Global Datang Langsung ke Pusat Perdagangan Linyi, Tiongkok
Jereh Luncurkan Saturn™, Solusi Pembangkit Listrik yang Lebih Efisien
Melalui kegiatan ini, peserta didorong menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan nyata di lingkungan sekolah.
Deklarasi Bersama Sekolah Perkuat Komitmen Pengelolaan Sampah dan Perubahan Perilaku Siswa
Salah satu hasil kegiatan adalah Deklarasi Bersama Sekolah, yang memuat komitmen sekolah peserta untuk memperkuat praktik pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Komitmen tersebut menjadi langkah awal untuk membawa gagasan selama kegiatan ke dalam praktik keseharian, meskipun dampak jangka panjangnya masih memerlukan pemantauan.
Keberlanjutan program akan bergantung pada penerapan inisiatif, keterlibatan warga sekolah, serta konsistensi pelaksanaan edukasi dan pemilahan sampah.
Karena itu, keberhasilan kegiatan tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau proposal yang dihasilkan, tetapi juga dari implementasi solusi setelah program berakhir.
Deklarasi bersama diharapkan memperkuat kepemilikan sekolah terhadap inisiatif lingkungan dan mendorong keterlibatan siswa dalam perubahan perilaku kolektif.
UNDP Serahkan Peralatan Digital Untuk Memperkuat Operasional Bank Sampah Budi Luhur
Penguatan pengelolaan sampah juga dilakukan melalui penyerahan simbolis peralatan digital dari UNDP kepada Bank Sampah Budi Luhur.
Peralatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pencatatan dan pemantauan kegiatan pengumpulan serta daur ulang sampah.
Bank Sampah Budi Luhur memiliki jejaring sekitar 75 sekolah mitra, sehingga penguatan sistem operasionalnya berpotensi mendukung koordinasi pengelolaan sampah lintas sekolah.
Sebelum kegiatan berlangsung, 10 personel bank sampah tersebut telah mengikuti pelatihan operasional pengelolaan sampah, pemilahan, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Dukungan teknologi dan peningkatan kapasitas personel menjadi bagian penting dalam membangun pencatatan yang lebih teratur serta memperkuat pemantauan aktivitas pengumpulan sampah.
Dalam konteks kebijakan nasional, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 menempatkan bank sampah sebagai sarana penerapan prinsip pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah.
Program UNDP Di Enam Kota Buka Peluang Replikasi Model Edukasi Ekonomi Sirkular Berbasis Sekolah
Youth Circularity Camp merupakan bagian dari Plastics Circularity Project UNDP Indonesia yang didukung The Coca-Cola Foundation.
Program tersebut dilaksanakan di enam kota, yakni Jakarta, Medan, Banjarmasin, Buleleng, Makassar, dan Labuan Bajo.
Kegiatan di Jakarta menjadi model awal edukasi ekonomi sirkular berbasis sekolah yang berpotensi direplikasi di wilayah pelaksanaan proyek lainnya.
Replikasi program dapat memperluas jangkauan edukasi, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, ketersediaan fasilitas, serta dukungan mitra pengelolaan sampah di setiap daerah.
Dengan melibatkan siswa, guru, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga internasional, dan pelaku usaha, Youth Circularity Camp 2026 membangun ruang kolaborasi untuk mengembangkan solusi sampah dari lingkungan pendidikan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan dan komitmen yang dihasilkan benar-benar diterapkan, dipantau, serta memberikan dampak berkelanjutan bagi pengelolaan sampah di sekolah.**










